Kembali

Tetap Tenang Saat Haid di Tanah Suci – Ibadah Tetap Bisa Jalan

Edukasi

04 October 2025 / By Admin

Haid saat melaksanakan ibadah haji atau umrah adalah hal yang wajar terjadi pada jamaah perempuan. Kondisi ini bukanlah sesuatu yang memalukan atau mengurangi kemuliaan ibadah seorang wanita. Justru, haid adalah bagian dari fitrah dan tanda keistimewaan yang Allah berikan kepada kaum hawa.

Meskipun ada beberapa ibadah yang tidak dapat dilakukan dalam keadaan ini, bukan berarti ibadah harus terhenti sepenuhnya. Islam memberikan ruang dan solusi agar perempuan tetap bisa beribadah, tetap mendapatkan pahala, dan menjalani pengalaman spiritual di Tanah Suci dengan penuh makna. Artikel ini akan membahas pandangan Islam dalam menghadapi haid saat berada di tengah rangkaian ibadah haji atau umrah.


Dalam hadits dari Aisyah yang lain, beliau menceritakan pengalamannya ketika perjalanan beribadah haji bersama Rasulullah, kemudian ia mengalami haid.

“Aku ikut dalam haji wada’ bersama Rasulullah SAW, saat sampai di Makkah, aku mengalami haid sehingga tidak bisa melakukan thawaf di Ka’bah dan tidak menjalankan rukun sa’i. Akupun menceritakan hal ini pada Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda, ‘Lepas gelunganmu, bersisirlah dan berniatlah ihram untuk berhaji’.” (HR. Bukhari)


Berbeda dengan madzhab Hanafi yang berpendapat bahwa mengerjakan thawaf harus dalam keadaan suci. Maka, apabila seorang wanita yang tengah haid melakukan thawaf, maka thawafnya sah namun harus membayar dam atau denda. Landasannya adalah firman Allah, “Hendaknya mereka melakukan thawaf di sekitar Ka’bah.” (QS. Al-Hajj: 9)


Jika Thawaf Saat Haid, bagi yang mengikuti pendapat ulama yang membolehkan thawaf saat haid dengan syarat tertentu, pastikan tubuh dalam keadaan bersih, menggunakan pelindung yang tepat agar darah tidak mengenai area masjid, dan tetap menjaga kesucian tempat.

Terima dengan Lapang Hati, ketika seorang perempuan mengalami haid saat melaksanakan ibadah haji atau umrah, penting untuk menyikapinya dengan tenang dan ikhlas. Haid adalah bagian dari ketetapan Allah SWT, dan menerimanya berarti bentuk kepasrahan serta ketaatan kepada-Nya.

Fokus pada Ibadah yang Tetap Bisa Dilakukan, meski ada beberapa larangan, bukan berarti ibadah berhenti total. Masih banyak amalan yang bisa dilakukan seperti berdzikir, berdoa, membaca doa-doa haji, serta mengikuti rangkaian manasik yang diperbolehkan seperti sai, wukuf di Arafah, dan mabit. Kesimpulan Haid bukanlah penghalang untuk tetap mendapatkan keberkahan dari perjalanan ibadah haji maupun umrah. Justru, dengan menerima ketentuan Allah dan tetap menjalani ibadah semampunya, seorang perempuan menunjukkan ketaatan yang luar biasa. Islam adalah agama yang penuh rahmat—ada banyak bentuk ibadah yang bisa dilakukan meski dalam kondisi haid. Jadi, jangan berkecil hati, tetap niatkan ibadah dengan sungguh-sungguh, dan jalani semuanya dengan ikhlas dan penuh syukur. Semoga setiap langkah dan niat kita diterima sebagai amal ibadah yang bernilai tinggi di sisi-Nya.

Share with :